Archives Juli 2018

Pembukaan Poli TB MDR

(Selasa,30/07/18) Pembukaan Pelayanan TB MDR (MTPTRO) di poli rawat jalan RSUD dr. Loekmono Hadi dipimpin oleh dr. Abdul Aziz Achyar, M.Kes (Direktur RSUD dr. Loekmono Hadi). Pembangunan klinik ini diharapkan dapat membantu masyarakat terbebas dari ancaman penyakit Turbekulosis (TBC) yang mengkhawatirkan. Hal ini yang disampaikan oleh direktur RSUD dr. Loekmono Hadi, dr. Abdul aziz Achyar, M.Kes.

Acara ini juga dihadiri oleh dr. Budi Santoso, SP.KFR (Wadir Pelayanan) , dr. Husnun Nisa, Sp.P (Dokter Spesialis Paru) , dr. Idil Fitri, Sp.PD, dr. Agustin Faizah, Sp.GK, kepala ruang dan kepala instalasi.

 

 

“Harapannya ke depan, masyarakat itu jangan takut, jangan sungkan dan jangan malu untuk berobat TB, karena penyakit TB itu bisa disembuhkan kalau diobati dengan benar. Jangan sampai pengobatannya terhenti, karena akan menimbulkan tingkat kedua namanya Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB),” ujar direktur RSUD dr. Loekmono Hadi.

 

Singkat Tentang TB :

Tuberkulosis / Tb (singkatan dari “Tubercle bacillus”) merupakan penyakit menular yang umum, dan dalam banyak kasus bersifat mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh berbagai strain mikobakteria, umumnya Mycobacterium tuberculosis (disingkat “MTb” atau “MTbc”). Tuberkulosis biasanya menyerang paru-paru, namun juga bisa berdampak pada bagian tubuh lainnya. Tuberkulosis menyebar melalui udara ketika seseorang dengan infeksi TB aktif batuk, bersin, atau menyebarkan butiran ludah mereka melalui udara. Infeksi TB umumnya bersifat asimtomatikdan laten. Namun hanya satu dari sepuluh kasus infeksi laten yang berkembang menjadi penyakit aktif. Bila Tuberkulosis tidak diobati maka lebih dari 50% orang yang terinfeksi bisa meninggal dunia ( https://id.wikipedia.org/wiki/Tuberkulosis ).

 

Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) dr. Naela Munawaroh, Sp. KFR

Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) oleh dr. Naela Munawaroh, Sp.KFR dengan tema “Nyeri Punggung” .

Kegiatan PKRS dilaksanakan setiap minggu kedua dan keempat setiap bulannya yang diadakan di ruang tunggu poliklinik RSUD dr. Loekmono Hadi. Materi disampaikan oleh dokter spesialis dan medis kesehatan lain yang berkompeten.

#PKRS
#PromosiKesehatanRumahSakit
#RumashSakitPilihanUtamaMasyarakat

 

Apel pagi dalam rangka pemberangkatan jamaah haji

(Selasa,10Juli2018) Apel pagi dalam rangka pemberangkatan jamaah haji mandiri dan petugas TKHI / PPIH di lingkungan RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus. Apel yang dilaksanakan di halaman apel RSUD dr. Loekmono Hadi tersebut, dipimpin oleh dr. Abdul Aziz Achyar, M.Kes selaku direktur RSUD dr. Loekmono Hadi dan diikuti oleh pejabat struktural, kepala ruang, kepala instalasi dan ketua komite.

 

Dalam sambutannya direktur berpesan pentingnya menjaga kesehatan terutama stamina tubuh selama menjalankan ibadah haji di tanah suci, supaya wajib dan rukun dalam menjalankan ibadah haji dapat terlampaui dari awal sampai akhir.

Apel pagi ditutup dengan acara ramah tamah dan pemberian ucapan selamat oleh peserta apel kepada para jamaah haji.

MEMBUKA MATA TENTANG KANKER PARU

MEMBUKA MATA TENTANG KANKER PARU

 

 

Oleh: dr. Husnun Nisa Ratna Ningrum Sp.P

Kanker paru adalah tumor ganas yang berasal dari paru atau dalam pengertian sehari-hari adalah tumor ganas yang berasal dari epitel bronkus (karsinoma bronkus). Di Indonesia kanker paru merupakan kanker penyebab kematian terbanyak pada laki-laki dan nomor dua terbanyak pada perempuan. Bahkan secara global di dunia ini kanker paru sudah menjadi pembunuh nomor satu akibat kanker. Menurut data survei Riset Kesehatan Dasar 2013, Jawa Tengah merupakan provinsi dengan estimasi jumlah kanker terbanyak di Indonesia.

Angka kematian akibat kanker lebih tinggi pada negara berkembang seperti Indonesia dibanding negara maju. Hal ini mencerminkan perbedaan faktor risiko, keberhasilan penanganan deteksi dan ketersediaan pengobatan. Penderita kanker paru sebagian besar  datang terlambat, dalam stadium yang sudah lanjut. Umumnya gejala tidak dirasakan saat stadium awal. Stadium awal bisa ditemukan saat medical check up.Gejala klinis biasanya baru dirasakan saat stadium lanjut seperti batuk, batuk darah, sesak napas, nyeri dada, berat badan menurun dsb. Bisa dikatakan gejala-gejala tersebut umum seperti gejala sakit pernapasan lainnya.

Sekitar 70% kanker paru berhubungan dengan tembakau atau rokok. Tetapi perlu diingat bahwa perokok yang sudah tidak aktif alias mantan perokok atau perokok pasif juga berisiko terkena kanker paru. Beberapa faktor risiko terjadinya kanker paru selain merokok antara lain kerentanan genetik, usia >40 tahun, paparan polusi baik indoor maupun outdoor, pajanan radon, pajanan industrI seperti asbestosis, silica dan lain-lain. Polusi indoor misalnya asap hasil pembakaran proses memasak, diperberat oleh ventilasi yang buruk. Polusi outdoor misalnya asap kendaraan bermotor dan asap pabrik. Menurut WHO, Asia Tenggara termasuk Indonesia adalah penyumbang polusi udara terbanyak kedua di dunia.

Sampai saat ini memang belum ada skrining untuk kanker paru secara umum. Skrining low dose CT Scan direkomendasikan pada kelompok risiko tinggi (usia >40 tahun dengan riwayat merokok ≥30 tahun dan berhenti merokok dalam kurun waktu 15 tahun sebelum pemeriksaan, atau pasien usia >50 tahun dengan riwayat merokok ≥20 tahun dengan faktor risiko lainnya antara lain pajanan radiasi, paparan okupasi terhadap bahan karsinogenik, riwayat kanker pada pasien atau keluarga dan riwayat penyakit paru seperti PPOK atau fibrosis paru.

Pemeriksaan khusus utama yang dilakukan oleh dokter spesialis paru dalam mendiagnosis sekaligus membantu mencari stadium kanker paru adalah dengan bronkoskopi. Sedangkan pemeriksaan lainnya antara lain pungsi pleura, biopsi transtorakal, aspirasi jarum halus, sputum sitologi, torakoskopi medik, biopsi pleura atau biopsi lainnya.

Pengobatan utama kanker paru tergantung dari stadium penyakit. Di rumah sakit pendidikan paru dan beberapa rumah sakit yang lain, dokter spesialis paru melakukan penegakan diagnosis, terapi, seperti kemoterapi, terapi target atau imunoterapi hingga penanganan efek samping terapi. Beberapa efek samping terapi yang biasa timbul di antaranya mual, diare, anemia, peningkatan risiko infeksi dsb. Selain terapi oleh dokter spesialis paru, terdapat terapi lain seperti terapi bedah, radioterapi dan terapi penunjang lainnya.

Apabila pasien sudah berada pada stadium lanjut maka terapi ditujukan untuk meningkatkan angka ketahanan dan kualitas hidup, bukan untuk kesembuhan penyakit. Maka, cegahlah kanker paru. Apabila terdapat faktor risiko bahkan disertai gejala klinis sebagaimana di atas, segera hubungi dokter spesialis paru terdekat di kota anda.